Sudah sepatutnya dunia kedokteran berterima kasih kepada ‘Bapak Biologi’ Antonie Philips van Leeuwenhoek atas dedikasinya dalam pengembangan mikroskop di tahun 1723. Dengan mikroskop kita dapat mengamati morfologi sel maupun motilitas mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang berukuran kecil. Salah satu metode yang sering digunakan untuk mengamati morfologi, dengan metode tersebut dapat diamati pula proses replikasi seperti binary fission pada bakteri maupun budding pada khamir (yeast). Meski demikian, karena sebagian besar mikroorganisme tersebut tidak berwarna/transparan sehingga kontras sel dengan latar/background sulit dibedakan. Susunan kimiawi dinding maupun membran sel bakteri sangat bervariasi, hal tersebut akan terlihat pada proses staining. Salah satu metode staining yang paling banyak digunakan adalah Gram staining yang ditemukan oleh Hans Cristian Gram pada tahun 1884. Dengan Gram staining bakteri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Gram positif dan Gram negatif. Namun demikian ada juga bakteri yang termasuk dalam kelompok Gram variabel dan Gram indeterminant. Pada perkembangan metode staining lanjut, diaplikasikan untuk pengamatan flagela, spora, maupun kapsul, untuk fungi, metode ini banyak digunakan untuk kepentingan identifikasi fungi seperti pengamatan struktur hifa, konidia, konidiospora, dan makrokonidia pada kapang/mold dan morfologi sel pada khamir/yeast.

Wet Mount

Wet mount adalah suatu metode preparasi spesimen dimana spesimen hidup dibiakan dengan cairan yang diletakkan pada kaca cekung atau kaca datar. Bagian cekung dari kaca membentuk semacam wadah yang akan terisi oleh substansi tebal mirip sirup seperti carboxymethyl cellulose. Mikroorganisme bebas bergerak dalam cairan tersebut, walaupun viskositas substansi menghambat pergerakan mikroorganisme. Hal ini memudahkan kita untuk mengobservasi mikroorganisme. Spesimen dan substansi dilindungi agar tidak tumpah atau terkontaminasi dengan menutup kaca cekung dengan kaca datar.

Menumbuhkan Biakan Bakteri

Bakteri secara normal bereproduksi menggunakan proses pembelahan biner (binary fission)

1. Sel memanjang dan kromosom DNA bereplikasi.

2. Dinding sel dan membran sel menekuk ke dalam dan mulai membelah.

3. Lekukan dinding sel saling bertemu, membentuk dinding pemisah antara dua DNA yang membelah.

4. Sel terpisah menjadi dua individu sel.

Beberapa bakteri bereproduksi dengan bertunas (budding). Semacam tunas kecil muncul dari bakteri dan membesar sampai berukuran seperti sel induk. Setelah berpisah, maka akan membentuk dua sel yang identik. Beberapa bakteri, disebut bakteri filamen (actinomycetes), bereproduksi dengan memproduksi rantai atau spora yang terletak pada ujung filamen. Filamen akan terfragmen dan fragmen ini menginisiasi pertumbuhan sel baru.

Pewarnaan Spesimen

Tidak semua spesimen dapat terlihat jelas di bawah mikroskop. Seringkali spesimen bercampur dengan objek lain pada latar belakang karena mereka menyerap dan memantulkan panjang gelombang cahaya yang hampir sama. Kita dapat memperjelas bentuk dan rupa dari spesimen dengan menggunakan pewarnaan. Pewarnaan digunakan untuk membedakan spesimen dari latar belakang.

Pewarnaan menggunakan bahan kimia yang melekat pada struktur mikroorganisme sehingga memberikan efek warna kepada mikroorganisme agar mudah dilihat dibawah mikroskop. Pewarnaan pada mikrobiologi terdapat dua jenis, asam dan basa.

Pewarnaan basa merupakan kationik dan memberikan listrik positif. Pewarna basa yang digunakan antara lain methylene blue, crystal violet, safranin dan malachite green. Pewarna tersebut ideal untuk mewarnai kromosom dan membran sel pada kebanyakan bakteri.

Pewarnaan asam merupakan anionik dan memberikan listrik negatif. Pewarna asam yang digunakan antara lain eosin dan picric acid. Pewarnaan asam digunakan untuk mewarnai materi sitoplasma dan organel-organel atau inklusi.

Tipe Pewarnaan

  • Pewarnaan Sederhana

Pewarnaan sederhana menggunakan teknik pewarnaan basa yang digunakan untuk menunjukkan bentuk dari sel dan struktur di dalam sel. Methylene blue, safranin, carbolfuchsin dan crystal violet adalah pewarna yang umum digunakan pada laboratorium mikrobiologi.

  • Pewarnaan Diferensial

Pewarnaan diferensial terdiri atas dua atau lebih teknik pewarnaan dan digunakan untuk prosedur identifikasi bakteri. Dua dari banyak pewarnaan diferensial yang umum digunakan adalah pewarnaan Gram (Gram stain) dan Ziehl-Nielsen acid-fast stain.

Pada tahun 1884 Hans Christian Gram, seorang dokter dari Denmark, mengembangkan pewarnaan Gram. Pengecatan Gram merupakan metode pewarnaan untuk mengklasifikasikan bakteri. Mikroorganisme Gram-positif tercat ungu, sedangkan mikroorganisme Gram-negatif tercat merah muda. Staphylococcus aureus, sejenis bakteri yang meracuni makanan, adalah gram-positif. Escherichia coli merupakan gram-negatif.

Teknik Pewarnaan Gram

1. Siapkan spesimen menggunakan heat fixation process:

- Siapkan kaca objek yang bersih

- Ambil sampel biakan bakteri

- Letakkan mikroorganisme hidup pada kaca objek

- Keringkan sebentar di udara terbuka kemudian lewatkan melalui pembakar bunsen tiga kali

- Panas menyebabkan mikroorganisme melekat pada kaca objek.

2. Teteskan pewarna crystal violet pada spesimen

3. Teteskan iodin pada spesimen menggunakan tetes mata, iodin membantu crystal violet untuk menempel pada spesimen. Iodin merupakan bahan kimia yang melekatkan pewarna ke spesimen.

4. Cuci spesimen menggunakan etanol atau larutan alkohol-aseton, lalu bilas dengan air.

5. Cuci spesimen untuk menghilangkan kelebihan iodin. Spesimen akan menunjukkan warna ungu.

6. Cuci spesimen dengan etanol atau alkohol-aseton untuk menghilangkan warna.

7. Cuci spesimen dengan air.

8. Teteskan safranin ke spesimen menggunakan tetes mata.

9. Cuci spesimen.

10. Gunakan tisu/kertas hisap untuk mengeringkan spesimen.

11. Spesimen siap dilihat dibawah mikroskop. Gram-positif terlihat ungu, dan gram-negatif terlihat merah muda.

ANATOMI JAMUR (FUNGI)

Yang dimaksud badan dari fungi adalah bagian panjang, terdapat susunan filamen longgar yang disebut hifa (hyphae).

Hifa dipisahkan oleh dinding sel yang disebut septa. Pada kebanyakan jamur, hifa dipisahkan menjadi satu unit sel yang disebut septate hyphae. Pada beberapa fungi, hifa tidak mempunyai septa dan terlihat seperti sel panjang multinukleus yang disebut coenocytic hyphae. Sitoplasma bergerak melalui hifa menembus pori-pori pada septa. Dibawah kondisi lingkungan yang baik, hifa tumbuh membentuk massa filamen yang disebut miselium.