Respon Imun Terhadap Bakteri

Eksperimen Pasteur

 

Unit Pembelajaran II

Blok 10

 

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Bagaimana respon imun terhadap infeksi bakteri?
  2. Apa saja komponen darah yang berperan dalam sistem imun?
  3. Jelaskan yang dimaksud dengan vaksinasi dan macamnya!


 

I. RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI BAKTERI

  1. Respon Innate Immunity

    Innate immunity adalah imunitas alami sebagai pelindung yang selalu ada dan aktif pada setiap spesies hewan untuk melindungi dari aksi agen infeksi. Innate immunity terdiri dari barier fisik dan barier mikrobiologis (flora normal), komponen fase cair, dan konstituen seluler (Hirsch & Zee, 1999).

    1. Barier Fisik

      Terdiri dari kulit dan permukaan mukosa.

    2. Flora Normal

      Dalam rangka memproduksi suatu penyakit pada permukaan mukosa, mikroorganisme patogen harus berinteraksi dengan sel permukaan. Jika sel tersebut telah ditempati oleh flora normal, maka tidak akan terjadi interaksi antara mikroorganisme patogen dengan sel permukaan, sehingga tidak terjadi penyakit. Dari mekanisme tersebut, flora normal digolongkan sebagai bagian dari innate immunity.

      Flora normal terdiri dari bakteri dan fungi (umumnya yeast). Bakteri dan fungi ini memiliki hubungan yang unik dengan organisme yang ditempatinya (host), hubungan ini dimulai saat fetus yang steril mulai memasuki birth canal. Bakteri dan fungi mulai berkoloni di seluruh permukaan yang terbuka, termasuk permukaan mukosa pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran urogenital distal.

    3. Konstituen Fase Cair (Fluid Phase Constituents)

      Ada banyak molekul cair yang penting untuk pertahanan alami melawan mikroorganisme patogenik. Diantaranya protein komplemen, lisozim, protein fase akut, interferon, dan iron-binding
      protein.

      Lisozim adalah enzim yang terdapat pada sekret berbagai sel tubuh. Enzim ini memotong lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri. Bakteri Gram-positif mudah diserang.

      Protein fase akut secara normal terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dalam plasma. Selama infeksi, mereka bertambah banyak. Contohnya protein C-reaktif, mengenali dan mengikat Ca2+ ke permukaan berbagai spesies bakteri dan fungi. C-reaktif berperan sebagai opsonin yang memfasilitasi fagositosis. Protein ini juga mengaktivasi sistem komplemen.

      Interferon penting untuk imunitas terhadap virus. Terdiri dari interferon alfa dan beta, sedangkan interferon gamma termasuk imunitas yang diperoleh (acquired immunity).

      Iron-binding protein (laktoferin, transferin) ditemukan dalam fase cair sebatas keberadaan zat besi (iron). Karena besi merupakan kebutuhan utama untuk pertumbuhan bakteri dan fungi, protein ini sangat berperan dalam innate immunity (Hirsch & Zee, 1999).

    4. Sel-Sel Imunitas Alami
      1. Sel-sel fagosit

        Infeksi bakteri di dalam tubuh menyebabkan mobilisasi neutrofil yang cepat dari tempat penyimpanannya ke area infeksi, sehingga terjadi akumulasi neutrofil. Pergerakan neutrofil dipengaruhi oleh faktor kemotaktis. Proses akumulasi neutrofil diawali dengan adherence neutrofil di sistem sirkulasi ke endotelium vaskuler (margination), extravasation ke dalam ruang antarjaringan, dan chemotaxis sel menuju ke daerah luka. Mikroorganisme penginfeksi dicerna oleh neutrofil melalui proses fagositosis.

        Fagositosis bakteri oleh neutrofil terjadi dalam beberapa tahap. Pertama terjadi pengenalan dan pengikatan awal. Proses ini dibantu oleh opsonin dan/atau imunoglobulin dan komponen komplemen. Lalu pseudopodia terbentuk mengelilingi organisme dan fusi membentuk vakuola fagositik yang berisi organisme. Beberapa organisme dapat mengantisipasinya, misalnya keberadaan kapsul polisakarida menyebabkan organisme resisten terhadap fagositosis. Kapsul tersebut memiliki muatan negatif (sama dengan muatan di permukaan sel fagosit) dan relatif hidrofilik (membran sel fagosit relatif hidrofobik). Setelah ditelan, granula lisosom fusi dengan membran fagosom membentuk fagolisosom.

      2. Makrofag

        Makrofag, selain penting dalam acquired immunity, juga penting dalam imunitas alami. Makrofag merupakan sel mononuklear yang dibentuk di sumsum tulang. Untuk beberapa hari setelah dilepaskan dari sumsum tulang, ia dilepaskan ke aliran darah dalam bentuk monosit sebelum menuju ke jaringan di mana ia akan menjadi makrofag yang fungsional. Makrofag dan neutrofil memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaannya, makrofag memiliki waktu hidup yang lebih panjang di jaringan. Makrofag distimulasi oleh sitokin (misalnya interferon) atau produk mikrobial (misalnya lipopolisakarida) untuk mengaktivasi nitric oxide synthase yang mengkatalis produksi nitro oksida (NO) dari L-arginin. NO sangat toksik bagi kebanyakan bakteri. Makrofag mirip dengan neutrofil dalam hal enzim hidrolitik dan peptida kationik (defensins) yang dihasilkan oleh lisosom.

        Neutrofil merespon stimulus dengan cepat, makrofag tidak ada sampai terjadi proses infeksi, setelah 8-12 jam. Kadangkala neutrofil dapat mengeliminasi organisme sebelum makrofag datang dalam jumlah besar.

      3. Sel Natural Killer (NK)

        Sel natural killer merupakan sel limfoid dengan karakteristik bukan sebagai limfosit T ataupun limfosit B. Sel ini tidak memiliki reseptor sel T, CD4, CD8, atau CD2 dan tidak memiliki imunoglobulin. Sel NK memiliki membran reseptor CD16, suatu reseptor IgG afinitas rendah. Sel NK berfungsi membunuh sel tumor, sel yang terinfeksi virus, dan beberapa bakteri.

    5. Inflamasi

      Inflamasi adalah istilah untuk respon tubuh terhadap kelukaan. Secara patologis ada empat tanda-tanda inflamasi: calor (panas), dolor (sakit), tumor (bengkak), dan rubor (kemerahan). Proses ini memiliki 3 komponen: 1) meningkatnya sirkulasi ke area, 2) meningkatnya permeabilitas kapiler, 3) kemotaksis neutrofil dan makrofag ke area (Hirsch & Zee, 1999).

    Gambar 1. Proses fagositosis: A) Bakteri diopsonisasi oleh antibodi. Antibodi mengikat reseptor Fc pada fagosit; B) Fagosit mulai melingkupi bakteri yang menempel; C) Fagosom berisi bakteri, fusi dengan lisosom pada sitoplasma fagosit membentuk fagolisosom; D) Bakteri mati dan dicerna; E) Produk pembongkaran bakteri dieliminasi dari sel. Beberapa bagian bakteri masih terdapat pada membran makrofag untuk digunakan dalam presentasi ke sel T (Hirsch, 1999).

     

  2. Respon Acquired Immunity

    Respon ini digerakkan oleh adanya presentasi antigen terhadap sel T dan B oleh antigen-presenting cell (APC). Antigen ditangkap oleh makrofag dari lingkungan eksternal, misalnya bakteri yang difagosit dan didigesti di dalam vakuola fagositik, akan diproses di fagosom dan bagian dari antigen yang tercerna akan dibawa ke permukaan.

    1. Respon Antibodi

      Respon acquired immunity dimulai dengan penelanan agen infeksi oleh APC. Terjadi transportasi agen ke nodus limfatikus lokal. Pada nodus limfatikus, antigen diproses dan dipresentasikan ke limfosit. Respon imun kemudian terjadi secara lokal dan sistemik karena antigen dapat dibawa ke aliran darah kemudian ke limpa.

      Pengenalan awal antigen kepada host diikuti dengan pemrosesan yang tepat dan stimulasi sel T sehingga menghasilkan pembentukkan klon-klon sel B spesifik terhadap epitop yang berbeda pada antigen. Dibawah pengaruh sel T sitokin, sel B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma penghasil antibodi. Antibodi pertama yang diproduksi adalah isotipe IgM dan akan terdapat dalam sirkulasi saat 7-10 hari setelah inisiasi respon imun. Lalu IgG akan muncul tetapi tidak meningkat tinggi pada respon imun primer ini. Pertemuan berikutnya dengan antigen, respon anamnestik sekunder akan terjadi. Isotipe yang predominan adalah IgG.

      Respon antibodi untuk pertahanan terhadap penyakit bakterial, tergantung mekanisme patogenik yang terlibat, area proses infeksi, dan isotipe antibodi yang dikeluarkan. Jika penyakitnya disebabkan oleh toksin ekstraseluler, misalnya tetanus, maka antibodi antitoksin penting untuk menetralkan dan mengikat toksin sebelum toksin itu mengikat area seluler lain dan menginisiasi gejala klinis.

      IgG dan IgM berfungsi sebagai opsonin dan bekerja bersama sel fagosit untuk meningkatkan proses menelan dan membunuh. IgG dan IgM juga mengaktivasi urutan komplemen sehingga mengakibatkan lisisnya bakteri (jika Gram negatif). Untuk bakteri yang hidup secara intraseluler fakultatif, misalnya Listeria dan Mycobacterium, antibodi relatif inefektif untuk membunuh dan membuang agen tersebut. Tipe infeksi ini membutuhkan respon TH1 untuk memproduksi gamma interferon. Gamma interferon dikenal sebagai macrophage activating factor, meningkatkan regulasi proses metabolik pada makrofag, memungkinkan makrofag untuk membunuh mikroorganisme yang mampu menghindari antibodi. Gamma interferon juga merupakan aktivator sel NK, meningkatkan kemampuan sel NK untuk membunuh targetnya (Hirsch & Zee, 1999).

    2. Imunitas Yang Dimediasi Sel (Cell-Mediated Immunity)

      Respon ini terdiri dari dua mekanisme yang berbeda: aktivasi makrofag (hipersensitifitas) dan sel T sitotoksik. Makrofag teraktivasi berguna untuk menghancurkan agen infeksi intraseluler (misalnya Brucella, Salmonella, Mycobacterium, Rickettsia). Sel T sitotoksik melisiskan sel host dimana agen infeksi berada (Hirsch & Zee, 1999).

II. KOMPONEN DARAH YANG BERPERAN DALAM SISTEM IMUN

Terdapat tiga tipe sel darah, eritrosit (sel darah merah) leukosit (sel darah putih) dan platelet (trombosit). Terdapat beberapa subtipe leukosit, dilihat dari perbedaan morofologinya dan kemampuannya.

Leukosit darah termasuk dalam pertahanan tubuh melawan infeksi mikroorganisme. Ketika kulit dan membran mukosa secara fisik membatasi masuknya agen infeksius, tetapi mikroba masih dapat menembus pembatas ini dan berlanjut hingga bisa terjadi infeksi internal. Leukosit bekerja berhubungan dengan protein plasma, berkelanjutan mencari mikroba patogen di jaringan dan darah.

Dari total leukosit, 40-75% adalah neutrofil yang bersifat neutrofilik dan polimorfonuklear. Sel fagosit ini aktif mencerna dan menghancurkan mikroorganisme penginvasi. Eosinofil dan basofil adalah sel polimorfonuklear yang terdapat dalam jumlah sedikit (1-6% dari total leukosit) dan ikut serta dalam reaksi alergi hipersensitif. Sel mononuklear, termasuk monosit dan limfosit menyusun 20-50% dari total leukosit. Sel ini membentuk antibodi dan menjaga reaksi imun seluler melawan agen penginvasi.

Jumlah dan proporsi relatif subtipe leukosit dapat sangat bervariasi pada keadaan penyakit yang berbeda. Misalnya jumlah neutrofil absolut seringkali meningkat selama infeksi. Eosinofil meningkat ketika individu terekspos alergen. Limfosit menurun ketika terkena AIDS dan selama infeksi beberapa virus lain (Rhoades, 2003).

Berbagai peranan tipe-tipe leukosit:

  1. Neutrofil: memakan, menghancurkan, dan mencerna bakteri.
  2. Eosinofil: menghancurkan, mencerna, dan mengontrol parasit metazoa; mencerna kompleks antigen-antibodi; berperan dalam pengaturan respon inflamatori alergik dan akut.
  3. Basofil: mendatangkan reaksi hipersensitif lewat sekresi mediator vasoaktif dengan degranulasi; mediasi respon inflamatori.
  4. Monosit: prekursor makrofag, memakan dan mempresentasikan antigen.
  5. Limfosit: respon imun yang dimediasi sel (sel T); respon imun yang dimediasi secara humoral (sel B).

    Gambar 2. Tipe-tipe leukosit dalam darah dan jaringan. Semua sel tersebut ditemukan dalam sirkulasi kecuali makrofag, yang berdiferensiasi dari monosit teraktivasi dalam jaringan (Rhoades, 2003).

 

 

III. VAKSINASI

Vaksinasi adalah metode untuk menghasilkan imunitas aktif melawan infeksi spesifik melalui pemberian vaksin. Sedangkan imunisasi merupakan proses buatan untuk menghasilkan perlawanan terhadap infeksi, biasanya menggunakan vaksin, kadang-kadang menggunakan antisera atau antitoksin (Boden, 2005).

  1. Imunisasi Aktif

    Pada metode ini, antigen (virus) diintroduksi ke dalam tubuh, baik dalam bentuk inaktif atau dengan patogenitas yang dilemahkan tetapi masih dapat berreplikasi, untuk memungkinkan tubuh menyusun imunitasnya sendiri.

    1. Vaksin Inaktif

      Menggunakan antigen dari virus yang dimatikan. Vaksinasi booster perlu diberikan secara berulang. Beberapa vaksin inaktif yang masih digunakan sampai sekarang antara lain influenza, rabies, dan vaksin hepatitis A dan B. Beberapa vaksin berisi protein imunogenik utama dari virus dan membuat perlindungan yang lebih efektif.

    2. Vaksin hidup yang dilemahkan (Live attenuated vaccines)

      Vaksin ini lebih efektif dan dapat bertahan lama setelah pemberian dosis tunggal, karena virus yang terdapat dalam vaksin masih mampu berreplikasi, mampu menginduksi respon humoral dan kadang juga seluler. Vaksin hidup lebih disukai bila tersedia. Namun vaksin hidup memiliki kekurangan dan resiko, tidak stabil, potensi kontaminasi dengan virus lain, dan kemungkinan mutasi balik yang dapat menghasilkan strain patogenik.

    3. Vaksin Rekombinan

      Karena hanya dibutuhkan sebagian kecil dari protein viral yang akan menginduksi imunisasi, vektor digunakan untuk mengeskpresikan gen virus tersebut pada vaksin. Vektor yang baik memiliki virulensi rendah, misalnya strain picornavirus, alphavirus, dan poxvirus. Beberapa vaksin rekombinan belum disetujui penggunaannya pada manusia. Vaksin rabies berisi vaksin rekombinan merupakan satu-satunya yang sering dipakai.

    4. Vaksin DNA

      Sejak DNA murni dapat dimasukkan ke dalam sel eukariotik (transfeksi) dan informasi yang dibawanya dapat diekspresikan, DNA yang mengkode protein viral dapat digunakan sebagai material vaksin (Kayser, 2005).

  2. Imunisasi Pasif

    Tipe vaksin ini melibatkan injeksi antibodi yang hanya menggunakan imunoglobulin manusia. Proteksi yang didapat bersifat jangka pendek dan hanya efektif melawan virus yang menyebabkan viremia. Imunisasi pasif biasanya dilakukan setelah terjadi penyebaran (epidemi) dan didesain untuk mencegah penyebaran patogen yang melibatkan infeksi berisiko tinggi, misalnya untuk melawan hepatitis B dan rabies (Kayser, 2005).

***

 

DAFTAR PUSTAKA

Boden, E. (2005). Black’s Veterinary Dictionary. London: A & C Black

 

Hirsch, D., & Zee, C. (1999). Veterinary Microbiology. Oxford: Blackwell Science

 

Kayser, F., Bienz, K. A., Eckert, J., & Zinkernagel, R. (2005). Medical Microbiology. New York: Thieme

 

Rhoades, R., & Tanner, G. (2003). Medical Physiology 2nd. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins

 


 

Perubahan Hormonal Induk dan Inisiasi Partus

A. Level Hormon Induk Pada Masa Kebuntingan Akhir

Perubahan hormon yang terjadi pada masa kebuntingan akhir sapi diketahui memiliki peran terhadap pematangan plasenta dan pengeluarannya. Plasentan mampu mensintesis estrogen dan progesteron dalam jumlah yang tidak sedikit. Sepuluh kali lipat konsentrasi estrogen dalam plasma terjadi saat bulan terakhir kebuntingan. Konsentrasi estrogen meningkat secara bertahap sampai minggu terakhir kebuntingan, lalu meningkat tajam pada saat partus. Selama kebuntingan akhir, estron merupakan bentuk estrogen yang dominan, dengan level 5-10 kali lebih banyak dari pada estradiol. Penurunan drastis estrogen dalam plasma dimulai setelah 24-36 jam.

Progesteron plasenta

Progesteron disintesis oleh plasenta selama 1/3 kebuntingan terakhir pada sapi. Meskipun corpus luteum tetap sebagai sumber utama progesteron dalam sirkulasi, plasenta mensekresikan progesteron fisiologis secara signifikan. Konsentrasi progesteron induk menurun selama minggu-minggu akhir kebuntingan dan merosot tajam saat menuju parturisi.

Pemasakan cervix

Secara normal, parturisi membutuhkan pelunakan dan dilatasi cervix. Pemasakan cervix dimulai saat kebuntingan akhir dibawah pengaruh relaksin dan estrogen dan terjadi lebih cepat ketika dominasi progesteron mulai menurun dan produksi prostaglandin meningkat (Gordon, 1996).

B. Inisiasi Partus

Telah diketahui bahwa sinyal untuk parturisi datang dari poros hipotalamus-pituitari-adrenal fetus. Meningkatnya level cortisol fetus menyediakan sinyal yang menginisiasi proses parturisi, dan transmisi dari sinyal ini ke induk dimediasi oleh perubahan aktivitas enzim steroidogenik di plasenta, bukan karena berjalannya hormon melalui plasenta dari fetus ke induk. Meskipun terjadi penambahan level cortisol induk sewaktu mendekati kelahiran, hal ini dipercaya hanya sebagai respon terhadap stress daripada sebagai bagian yang terlibat dalam inisiasi partus.

Corpus luteum sebagai sumber utama progesteron

Corpus luteum sapi dipercaya sebagai satu-satunya sumber terpenting dari progesteron selama kebuntingan, meskipun beberapa steroid disekresikan oleh plasenta. Terjadinya konsentrasi tinggi ditemukan dalam vena ovarian. Konsentrasi tinggi estrogen dalam vena uterina mengindikasikan bahwa unit feto-plasenta merupakan sumber utama estrogen. Meningkatnya cortisol fetus pada kebuntingan akhir merangsang produksi enzim baru atau mengaktivasi enzim di plasenta. Kemudian plasenta meningkatkan produksi estrogen, dengan cara mempercepat produksi estrogen dan konversi progesteron. Sintesis estrogen di plasenta dan produksi progesteron di corpus luteum merupakan sistem yang independen pada sapi, dan peningkatan konversi progesteron menjadi estrogen kemungkinan tidak terjadi pada domba.

Peningkatan konsentrasi estrogen mungkin berhubungan dengan regresi corpus luteum atau produksi prostaglandin oleh kotiledon. Corpus luteum biasanya berhenti mensekresikan progesteron 30-40 hari sebelum parturisi. Otot-otot uterus dan saluran kelahiran disiapkan untuk parturisi dengan peningkatan konsentrasi estrogen, yang dipercaya dapat meningkatkan kontraksi uterus dan menambah sensitivitas terhadap oksitosin dan prostaglandin.

Urutan hormon menginisiasi kelahiran

Terdapat sedikit keraguan bahwa urutan hormon yang mengawali kelahiran berasal dari fetus, yaitu dengan peningkatan sekresi cortisol. Barangkali pelepasan cortisol oleh pituitari fetus dipicu oleh pemasakan sel neurosekretori di hipotalamus. Ketika kelahiran dipengaruhi oleh corticosteroid sintetis yang diberikan oleh peneliti, secara kasar sinyal akan terbentuk. Beberapa steroid sintetis, seperti dexamethasone, dapat menembus plasenta dari sirkulasi induk dan dapat mengaktivasi atau merangsang enzim plasenta yang secara normal merupakan target dari cortisol fetus (Gordon, 1996).

=============================

Gordon, I. (1996). Controlled Reproduction in Cattle and Buffaloes. New York: CABI Publishing

Breeding Soundness Examination dan Hormon Reproduksi Jantan

I.  PENGERTIAN BSE DAN TAHAPAN DALAM BSE

  1. Pengertian BSE

Breeding Soundness Examination/Evaluation (BSE) adalah evaluasi terhadap kemampuan pejantan untuk menghasilkan semen yang fertil hingga bisa membuntingi betina. BSE pada sapi jantan (bull) penting untuk meningkatkan sifat genetik ternak dan meningkatkan performan peternakan 80-90% (Gustari, 2010). BSE dilakukan untuk mengidentifikasi bull yang fertilitasnya kurang, tidak hanya untuk mencari yang steril. Sangat sedikit bull yang steril, tetapi lebih banyak yang fertilitasnya kurang memadai (Bagley & Burrell, 1997).

  1. Tahapan BSE

BSE dimulai dengan pemeriksaan fisik pada pejantan. Termasuk pemeriksaaan kesehatan kaki, mata, dan lain-lain yang jika tidak sehat akan menurunkan kemampuan pejantan untuk mendekati dan mengawini betina. Termasuk juga pemeriksaan penis dan testis, pengukuran lingkar skrotum, dan pemeriksaan organ aksesoria dengan palpasi rektal. Kemudian sampel semen dikoleksi, biasanya menggunakan elektroejakulasi. Sebagian sampel tersebut diperiksa pada kaca objek mikroskop yang hangat untuk diperiksa motilitasnya. Sampel yang lain diletakkan di kaca objek dan diwarnai untuk menentukan persentase sperma yang memiliki morfologi normal dan abnormal.

Prosedur ini tidak mengevaluasi kemampuan pejantan (dalam hal ini bull) untuk kawin atau perilaku kawin (libido) (Bagley & Burrell, 1997).

Berikut ini tahapan BSE pada bull (sapi jantan):

  1. Pemeriksaan Fisik

–          Identifikasi bull sangat penting. Periksa branding, ear tattoo, dan ear tags, atau bisa juga dengan mengambil fotonya.

–          Pemeriksaan fisik penting untuk menentukan kemampuan bull dalam menghasilkan keturunan. BCS (body condition score) harus bagus saat BSE, karena bull akan kehilangan nilai BCS selama musim kawin.

–          Sistem lokomosi harus baik, untuk mendekati betina.

–          Pengujian penglihatan bull, karena bull mengidentifikasi sapi betina estrus dengan penglihatan, bukan dengan penciuman.

–          Lihat giginya. Sapi jantan membutuhkan makanan agar tetap sehat untuk kawin. Kita juga dapat menentukan usia bull melalui gigi.

–          Lihat dengan seksama kulitnya. Periksa apakah ada abses, eversi, atau prolaps.

  1. Pengujian Libido

–          Pengujian libido tidak secara rutin dilakukan jika melakukan BSE.

–          Metode ‘one bull’ dengan heifer yang direstrain. Bull dibolehkan untuk menaiki heifer selama 10-15 menit. Bull seharusnya menaiki sedikitnya satu kali. Jika tidak, maka ia gagal dan dapat mencoba kembali.

–          Metode ‘multiple bull’ menggunakan 4 heifer dalam kandang berbeda, dengan 5 bull bergantian.

  1. Penis

–          Ketika bull akan ejakulasi, pastikan ia dapat memanjangkan penisnya secara sempurna. Phimosis adalah keadaan jika bull tidak dapat mengeluarkan penisnya, dan paraphimosis jika tidak dapat memasukkan penisnya kembali.

–          Panjang penis dapat mencapai hampir di antara kaki depan selama ereksi dan pemanjangan penuh. Bull dengan penis yang terlalu pendek tidak akan bisa menghasilkan keturunan.

–          Fibropapilloma pada penis dapat menyebabkan hemoragi selama kawin, dan mengakibatkan infertilitas.

  1. Testes

–          Testes harus diperiksa untuk konsistensinya dan ukurannya.

–          Bentuk skrotum penting untuk termoregulasi testes. Suatu ‘leher’ harus terdapat pada skrotum, tetapi bentuk abnormal skrotum bisa terjadi yaitu runcing, dan bersisi lurus.

–          Testes harus bebas bergerak di dalam skrotum dan harus simetris. Testes dapat berotasi 40 derajat secara normal dan ligamen skrotum dapat menyebabkan testes ditarik ke dorsal dan kaudal, tetapi hal ini hanya berefek kecil dalam fertilitas.

–          Semua ke-asimetris-an testis adalah abnormal dan dapat mengindikasikan orchitis, degenerasi testis, hydrocele, atau hernia.

–          Ukuran testes berhubungan dengan produksi sperma dan usia pubertas.

–          Penting juga untuk palpasi epididimis untuk memastikan bahwa normal keadaannya.

–          Lingkar skrotum merupakan pengukuran tidak langsung untuk massa testis, yang berhubungan dengan produksi sperma dan kesehatan parenkim jaringan testis.

–          Lingkar skrotum diukur pada titik terlebar dari skrotum, dengan hati-hati menarik testes ke bawah. Kesalahan dapat terjadi karena adanya lemak di skrotum, hernia, atau karena testis tidak ditarik ke bawah.

  1. Glandula Aksesoria Internal

–          Prostat dipalpasi sebagai pita yang melintang di pelvis uretra.

–          Tidak ada penyakit yang dihubungkan dengan prostat, tetapi prostat adalah penanda yang berguna ketika palpasi.

–          Ampula terletak di bagian distal duktus deferen yang berhubungan dengan pelvis uretra. Secara umum tidak ditemukan masalah.

–          Vesikula seminalis merupakan sepasang kelenjar yang seperti kantong anggur pada tiap sisi pelvis uretra. Vesikulitis seminalis adalah penyakit yang umum pada bull.

–          Cincin inguinal dapat dipalpasi.

  1. Koleksi Semen

–          Vagina buatan merupakan metode ideal untuk mendapatkan sampel semen fisiologis. Namun, cara ini hanya dapat digunakan pada bull yang telah terlatih.

–          Elektroejakulator adalah metode yang umum digunakan.

  • Stimulasi elektrik diberikan pada saraf simpatis dan parasimpatis untuk menyebabkan ejakulasi.
  • Beberapa bull tidak merespon dengan baik dan beberapa bull (Brahman) jatuh karena stimulasi ini.

–          Massage manual pada prostat, ampulla, dan vesikula seminalis dapat juga menyebabkan ejakulasi.

  • Merupakan alternatif bagi bull yang jatuh akibat elektroejakulasi
  • Vesikula seminalis dipijat untuk menyebabkan ereksi, dan ampulla untuk menyebabkan ejakulasi.
  • Cara ini hanya berhasil di sebagian bull (Eilts, 2005).

II.  HORMON YANG TERKAIT DENGAN REPRODUKSI JANTAN

Hormon yang mempengaruhi spermatogenesis (Guyton & Hall, 2006) :

  1. Testosteron, disekresikan oleh sel Leydig yang terdapat pada interstisial testis, sangat penting untuk pertumbuhan dan pembelahan dari sel germinal, dimana terjadi awal perkembangan dari sperma.
  2. Luteinizing hormone, disekresikan oleh glandula pituitari anterior, merangsang sel Leydig untuk mensekresikan testosteron.
  3. Follicle-stimulating hormone, disekresikan oleh pituitari anterior, merangsang sel Sertoli. Tanpa rangsangan ini, konversi spermatid menjadi sperma (spermiogenesis) tidak akan terjadi.
  4. Estrogen, dibentuk dari testosteron oleh sel Sertoli ketika dirangsang oleh FSH, mungkin penting juga untuk spermiogenesis.
  5. Growth hormone (hormon pertumbuhan) kadang-kadang dibutuhkan untuk mengontrol fungsi metabolisme dari testis. Hormon pertumbuhan secara spesifik meningkatkan pembelahan awal dari spermatogonia. Ketiadaan hormon ini pada manusia, menyebabkan defisiensi spermatogenesis dan infertilitas (Guyton & Hall, 2006).
  1. Luteinizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone

Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) diproduksi oleh pituitari anterior yang distimulasi oleh gonadotrophin-releasing hormone (GnRH).

  1. Testosteron

Testes merupakan organ target dari LH dan FSH, berisi dua tipe sel utama yaitu sel Leydig dan sel Sertoli, ditambah struktur jaringan yang berhubungan. Sel Leydig ditemukan di ruang intertubular atau jaringan interstisial testis yang bertanggungjawab untuk memproduksi testosteron. Sel Leydig ini dan testosteron yang disekresikan dikontrol oleh LH. LH diproduksi secara pulsatil, sehingga demikian juga testosteron. Karena testosteron dilepaskan secara pulsatil, sampel darah tunggal untuk pemeriksaan kandungan testosteron dapat memberikan informasi yang salah. Pemeriksaan hormon yang diambil beberapa kali selama periode waktu tertentu dan dirata-ratakan akan lebih akurat terhadap keadaan kandungan testosteron yang sebenarnya.

Sel Sertoli ditemukan mengelilingi tubulus seminiferus dan berperan sebagai sel perawat (nurse cells) untuk perkembangan spermatid. FSH dan testosteron mengatur sel Sertoli. FSH berfungsi untuk memulai proses spermatogenesis, perkembangan spermatogonia ke spermatosit sekunder. Testosteron kemudian menyempurnakan perkembangan dari spermatosit sekunder ke spermatozoa, siap untuk berjalan ke epididimis untuk pematangan.

Sebagai tambahan, testosteron mengontrol perkembangan genitalia jantan, penurunan testis (descendent testiculorum) saat fetus, perubahan puber dan akselerasi pertumbuhan, serta pemeliharaan glandula aksesorius.  Testosteron juga bertanggungjawab untuk libido jantan, perilaku seksual, dan perkembangan musculus dengan stimulasi sistem saraf pusat. Testosteron berlaku sebagai feedback negatif pada fungsi pituitari untuk mengurangi pelepasan LH dan FSH, sehingga produksi testosteron itu sendiri akan seimbang. Suatu derivat dari testosteron, dihidrotestosteron, juga berperan sebagai feedback negatif pada pituitari (Morel, 2003).

  1. Inhibin dan Aktivin

Hormon lainnya yang mengontrol reproduksi jantan adalah inhibin dan aktivin. Keduanya diproduksi oleh sel Sertoli sebagai hasil dari produksi total sperma dan memiliki efek feedback tambahan pada fungsi hipotalamus dan pituitari, spesifiknya di produksi FSH. Inhibin berperan sebagai feedback negatif, dan aktivin sebagai feedback positif.

  1. Prolaktin

Fungsi utama prolaktin pada jantan kemungkinan berperan dalam perubahan fisiologis musim non-reproduktif. Misalnya efisiensi pakan selama musim dingin. Prolaktin mungkin juga berperan dalam peningkatan efek LH di sel Leydig dengan beberapa cara dan fungsionalitas glandula aksesoria.

  1. Estrogen

Testis kuda berisi estrogen dan estron dalam konsentrasi tinggi dibandingkan testis mamalia lainnya. Kontrol dan fungsi estrogen testis belum jelas (Morel, 2003).

 

Materi Kuliah UP 5 Blok 8

Download powerpoint’s slide:

UP5 Pemeriksaan Sampel Darah _Prof Soesanto_

UP5 Kesejahteraan Hewan Lab

UP5 Bioetik dan Kesejahteraan Hewan dalam Penelitian Biomedik –> tidak boleh diuplot/didonlot🙂

+++++++++++++++++

Kromosom dan Kelainannya

Dari Skenario “Hybrid Menarik Pada Hewan”

 

Learning objective:

1.      Struktur dan fungsi materi gen. . .

2.      Proses cross over gene

3.      Mutasi gen

Struktur dan fungsi materi gen

MORFOLOGI KROMOSOM.

1. Ukuran dan bentuk kromosom

Panjang kromosom pada tiap-tiap makluk hidup berbeda – beda berkisar antara 0,2 – 20 mikron. Pada umum nya semakin dedikit jumlah kromoso pada suatu makluk hidup semakin panjang kromosomya.

Pada tiap kromosom selalu ada bagian kromosom yang menyempit tampak lebih terang dari yang lain dan membagi kromosom menjadi duo bagian, bagian itu disebut sentromir. Kromosom berdasar letak sentromir dapat dibagi menjadi beberapa bentuk diantaranya : Read more…

Struktur Bakteri dan Fungi

Sudah sepatutnya dunia kedokteran berterima kasih kepada ‘Bapak Biologi’ Antonie Philips van Leeuwenhoek atas dedikasinya dalam pengembangan mikroskop di tahun 1723. Dengan mikroskop kita dapat mengamati morfologi sel maupun motilitas mikroorganisme seperti bakteri dan fungi yang berukuran kecil. Salah satu metode yang sering digunakan untuk mengamati morfologi, dengan metode tersebut dapat diamati pula proses replikasi seperti binary fission pada bakteri maupun budding pada khamir (yeast). Meski demikian, karena sebagian besar mikroorganisme tersebut tidak berwarna/transparan sehingga kontras sel dengan latar/background sulit dibedakan. Susunan kimiawi dinding maupun membran sel bakteri sangat bervariasi, hal tersebut akan terlihat pada proses staining. Salah satu metode staining yang paling banyak digunakan adalah Gram staining yang ditemukan oleh Hans Cristian Gram pada tahun 1884. Dengan Gram staining bakteri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Gram positif dan Gram negatif. Namun demikian ada juga bakteri yang termasuk dalam kelompok Gram variabel dan Gram indeterminant. Pada perkembangan metode staining lanjut, diaplikasikan untuk pengamatan flagela, spora, maupun kapsul, untuk fungi, metode ini banyak digunakan untuk kepentingan identifikasi fungi seperti pengamatan struktur hifa, konidia, konidiospora, dan makrokonidia pada kapang/mold dan morfologi sel pada khamir/yeast.

Wet Mount

Wet mount adalah suatu metode preparasi spesimen dimana spesimen hidup dibiakan dengan cairan yang diletakkan pada kaca cekung atau kaca datar. Bagian cekung dari kaca membentuk semacam wadah yang akan terisi oleh substansi tebal mirip sirup seperti carboxymethyl cellulose. Mikroorganisme bebas bergerak dalam cairan tersebut, walaupun viskositas substansi menghambat pergerakan mikroorganisme. Hal ini memudahkan kita untuk mengobservasi mikroorganisme. Spesimen dan substansi dilindungi agar tidak tumpah atau terkontaminasi dengan menutup kaca cekung dengan kaca datar.

Menumbuhkan Biakan Bakteri

Bakteri secara normal bereproduksi menggunakan proses pembelahan biner (binary fission)

1. Sel memanjang dan kromosom DNA bereplikasi.

2. Dinding sel dan membran sel menekuk ke dalam dan mulai membelah.

3. Lekukan dinding sel saling bertemu, membentuk dinding pemisah antara dua DNA yang membelah.

4. Sel terpisah menjadi dua individu sel.

Beberapa bakteri bereproduksi dengan bertunas (budding). Semacam tunas kecil muncul dari bakteri dan membesar sampai berukuran seperti sel induk. Setelah berpisah, maka akan membentuk dua sel yang identik. Beberapa bakteri, disebut bakteri filamen (actinomycetes), bereproduksi dengan memproduksi rantai atau spora yang terletak pada ujung filamen. Filamen akan terfragmen dan fragmen ini menginisiasi pertumbuhan sel baru.

Pewarnaan Spesimen

Tidak semua spesimen dapat terlihat jelas di bawah mikroskop. Seringkali spesimen bercampur dengan objek lain pada latar belakang karena mereka menyerap dan memantulkan panjang gelombang cahaya yang hampir sama. Kita dapat memperjelas bentuk dan rupa dari spesimen dengan menggunakan pewarnaan. Pewarnaan digunakan untuk membedakan spesimen dari latar belakang.

Pewarnaan menggunakan bahan kimia yang melekat pada struktur mikroorganisme sehingga memberikan efek warna kepada mikroorganisme agar mudah dilihat dibawah mikroskop. Pewarnaan pada mikrobiologi terdapat dua jenis, asam dan basa.

Pewarnaan basa merupakan kationik dan memberikan listrik positif. Pewarna basa yang digunakan antara lain methylene blue, crystal violet, safranin dan malachite green. Pewarna tersebut ideal untuk mewarnai kromosom dan membran sel pada kebanyakan bakteri.

Pewarnaan asam merupakan anionik dan memberikan listrik negatif. Pewarna asam yang digunakan antara lain eosin dan picric acid. Pewarnaan asam digunakan untuk mewarnai materi sitoplasma dan organel-organel atau inklusi.

Tipe Pewarnaan

  • Pewarnaan Sederhana

Pewarnaan sederhana menggunakan teknik pewarnaan basa yang digunakan untuk menunjukkan bentuk dari sel dan struktur di dalam sel. Methylene blue, safranin, carbolfuchsin dan crystal violet adalah pewarna yang umum digunakan pada laboratorium mikrobiologi.

  • Pewarnaan Diferensial

Pewarnaan diferensial terdiri atas dua atau lebih teknik pewarnaan dan digunakan untuk prosedur identifikasi bakteri. Dua dari banyak pewarnaan diferensial yang umum digunakan adalah pewarnaan Gram (Gram stain) dan Ziehl-Nielsen acid-fast stain.

Pada tahun 1884 Hans Christian Gram, seorang dokter dari Denmark, mengembangkan pewarnaan Gram. Pengecatan Gram merupakan metode pewarnaan untuk mengklasifikasikan bakteri. Mikroorganisme Gram-positif tercat ungu, sedangkan mikroorganisme Gram-negatif tercat merah muda. Staphylococcus aureus, sejenis bakteri yang meracuni makanan, adalah gram-positif. Escherichia coli merupakan gram-negatif.

Teknik Pewarnaan Gram

1. Siapkan spesimen menggunakan heat fixation process:

Siapkan kaca objek yang bersih

Ambil sampel biakan bakteri

Letakkan mikroorganisme hidup pada kaca objek

Keringkan sebentar di udara terbuka kemudian lewatkan melalui pembakar bunsen tiga kali

Panas menyebabkan mikroorganisme melekat pada kaca objek.

2. Teteskan pewarna crystal violet pada spesimen

3. Teteskan iodin pada spesimen menggunakan tetes mata, iodin membantu crystal violet untuk menempel pada spesimen. Iodin merupakan bahan kimia yang melekatkan pewarna ke spesimen.

4. Cuci spesimen menggunakan etanol atau larutan alkohol-aseton, lalu bilas dengan air.

5. Cuci spesimen untuk menghilangkan kelebihan iodin. Spesimen akan menunjukkan warna ungu.

6. Cuci spesimen dengan etanol atau alkohol-aseton untuk menghilangkan warna.

7. Cuci spesimen dengan air.

8. Teteskan safranin ke spesimen menggunakan tetes mata.

9. Cuci spesimen.

10. Gunakan tisu/kertas hisap untuk mengeringkan spesimen.

11. Spesimen siap dilihat dibawah mikroskop. Gram-positif terlihat ungu, dan gram-negatif terlihat merah muda.

ANATOMI JAMUR (FUNGI)

Yang dimaksud badan dari fungi adalah bagian panjang, terdapat susunan filamen longgar yang disebut hifa (hyphae).

Hifa dipisahkan oleh dinding sel yang disebut septa. Pada kebanyakan jamur, hifa dipisahkan menjadi satu unit sel yang disebut septate hyphae. Pada beberapa fungi, hifa tidak mempunyai septa dan terlihat seperti sel panjang multinukleus yang disebut coenocytic hyphae. Sitoplasma bergerak melalui hifa menembus pori-pori pada septa. Dibawah kondisi lingkungan yang baik, hifa tumbuh membentuk massa filamen yang disebut miselium.

Pokoke isinya ini (acak2an)😄

1.  Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan…………………. 2
a.  Pengertian Obat………………………………………………… 2
b.  Bahan Obat / Bahan Baku……………………………………… 2
c.  Obat Tradisional……………………………………………….. 3
d.  Penggolongan Obat……………………………………………. 3
e.  Peran Obat……………………………………………………… 4
2.  Parameter-parameter Farmakologi………………………………… 5
a.  Farmakokinetika……………………………………………….. 5
b.  Farmakodinamika……………………………………………… 8
3.  Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya………… 11
•  Bentuk-bentuk Obat serta Tujuan Penggunaannya…………….. 11
•  Cara Pemberian Obat serta Tujuan Penggunaannya…………… 14
•  Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan…………………………….. 16
4.  Terapi Obat pada Pasien-pasien Khusus…………………………… 17
a.  Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Hamil…………………… 17
b.  Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Menyusui………………. 17
c.  Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Anak…………………… 18
d.  Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Lansia…………………… 19
e.  Terapi/Penggunaan Obat pada Pasien Gangguan Ginjal dan Hati 20
5.  Penggolongan Obat pada Saluran Cerna…………………………… 21
6.  Penggolongan Obat pada Saluran Pernafasan……………………… 26
7.  Penggolongan Obat pada Antibiotika……………………………… 20
8.  Pengetahuan Farmakologi (obat) bagi Rekam Medis………………. 35

Selengkapnya di : obat

sumber: http://yoyoke.web.ugm.ac.id