I.  PENGERTIAN BSE DAN TAHAPAN DALAM BSE

  1. Pengertian BSE

Breeding Soundness Examination/Evaluation (BSE) adalah evaluasi terhadap kemampuan pejantan untuk menghasilkan semen yang fertil hingga bisa membuntingi betina. BSE pada sapi jantan (bull) penting untuk meningkatkan sifat genetik ternak dan meningkatkan performan peternakan 80-90% (Gustari, 2010). BSE dilakukan untuk mengidentifikasi bull yang fertilitasnya kurang, tidak hanya untuk mencari yang steril. Sangat sedikit bull yang steril, tetapi lebih banyak yang fertilitasnya kurang memadai (Bagley & Burrell, 1997).

  1. Tahapan BSE

BSE dimulai dengan pemeriksaan fisik pada pejantan. Termasuk pemeriksaaan kesehatan kaki, mata, dan lain-lain yang jika tidak sehat akan menurunkan kemampuan pejantan untuk mendekati dan mengawini betina. Termasuk juga pemeriksaan penis dan testis, pengukuran lingkar skrotum, dan pemeriksaan organ aksesoria dengan palpasi rektal. Kemudian sampel semen dikoleksi, biasanya menggunakan elektroejakulasi. Sebagian sampel tersebut diperiksa pada kaca objek mikroskop yang hangat untuk diperiksa motilitasnya. Sampel yang lain diletakkan di kaca objek dan diwarnai untuk menentukan persentase sperma yang memiliki morfologi normal dan abnormal.

Prosedur ini tidak mengevaluasi kemampuan pejantan (dalam hal ini bull) untuk kawin atau perilaku kawin (libido) (Bagley & Burrell, 1997).

Berikut ini tahapan BSE pada bull (sapi jantan):

  1. Pemeriksaan Fisik

–          Identifikasi bull sangat penting. Periksa branding, ear tattoo, dan ear tags, atau bisa juga dengan mengambil fotonya.

–          Pemeriksaan fisik penting untuk menentukan kemampuan bull dalam menghasilkan keturunan. BCS (body condition score) harus bagus saat BSE, karena bull akan kehilangan nilai BCS selama musim kawin.

–          Sistem lokomosi harus baik, untuk mendekati betina.

–          Pengujian penglihatan bull, karena bull mengidentifikasi sapi betina estrus dengan penglihatan, bukan dengan penciuman.

–          Lihat giginya. Sapi jantan membutuhkan makanan agar tetap sehat untuk kawin. Kita juga dapat menentukan usia bull melalui gigi.

–          Lihat dengan seksama kulitnya. Periksa apakah ada abses, eversi, atau prolaps.

  1. Pengujian Libido

–          Pengujian libido tidak secara rutin dilakukan jika melakukan BSE.

–          Metode ‘one bull’ dengan heifer yang direstrain. Bull dibolehkan untuk menaiki heifer selama 10-15 menit. Bull seharusnya menaiki sedikitnya satu kali. Jika tidak, maka ia gagal dan dapat mencoba kembali.

–          Metode ‘multiple bull’ menggunakan 4 heifer dalam kandang berbeda, dengan 5 bull bergantian.

  1. Penis

–          Ketika bull akan ejakulasi, pastikan ia dapat memanjangkan penisnya secara sempurna. Phimosis adalah keadaan jika bull tidak dapat mengeluarkan penisnya, dan paraphimosis jika tidak dapat memasukkan penisnya kembali.

–          Panjang penis dapat mencapai hampir di antara kaki depan selama ereksi dan pemanjangan penuh. Bull dengan penis yang terlalu pendek tidak akan bisa menghasilkan keturunan.

–          Fibropapilloma pada penis dapat menyebabkan hemoragi selama kawin, dan mengakibatkan infertilitas.

  1. Testes

–          Testes harus diperiksa untuk konsistensinya dan ukurannya.

–          Bentuk skrotum penting untuk termoregulasi testes. Suatu ‘leher’ harus terdapat pada skrotum, tetapi bentuk abnormal skrotum bisa terjadi yaitu runcing, dan bersisi lurus.

–          Testes harus bebas bergerak di dalam skrotum dan harus simetris. Testes dapat berotasi 40 derajat secara normal dan ligamen skrotum dapat menyebabkan testes ditarik ke dorsal dan kaudal, tetapi hal ini hanya berefek kecil dalam fertilitas.

–          Semua ke-asimetris-an testis adalah abnormal dan dapat mengindikasikan orchitis, degenerasi testis, hydrocele, atau hernia.

–          Ukuran testes berhubungan dengan produksi sperma dan usia pubertas.

–          Penting juga untuk palpasi epididimis untuk memastikan bahwa normal keadaannya.

–          Lingkar skrotum merupakan pengukuran tidak langsung untuk massa testis, yang berhubungan dengan produksi sperma dan kesehatan parenkim jaringan testis.

–          Lingkar skrotum diukur pada titik terlebar dari skrotum, dengan hati-hati menarik testes ke bawah. Kesalahan dapat terjadi karena adanya lemak di skrotum, hernia, atau karena testis tidak ditarik ke bawah.

  1. Glandula Aksesoria Internal

–          Prostat dipalpasi sebagai pita yang melintang di pelvis uretra.

–          Tidak ada penyakit yang dihubungkan dengan prostat, tetapi prostat adalah penanda yang berguna ketika palpasi.

–          Ampula terletak di bagian distal duktus deferen yang berhubungan dengan pelvis uretra. Secara umum tidak ditemukan masalah.

–          Vesikula seminalis merupakan sepasang kelenjar yang seperti kantong anggur pada tiap sisi pelvis uretra. Vesikulitis seminalis adalah penyakit yang umum pada bull.

–          Cincin inguinal dapat dipalpasi.

  1. Koleksi Semen

–          Vagina buatan merupakan metode ideal untuk mendapatkan sampel semen fisiologis. Namun, cara ini hanya dapat digunakan pada bull yang telah terlatih.

–          Elektroejakulator adalah metode yang umum digunakan.

  • Stimulasi elektrik diberikan pada saraf simpatis dan parasimpatis untuk menyebabkan ejakulasi.
  • Beberapa bull tidak merespon dengan baik dan beberapa bull (Brahman) jatuh karena stimulasi ini.

–          Massage manual pada prostat, ampulla, dan vesikula seminalis dapat juga menyebabkan ejakulasi.

  • Merupakan alternatif bagi bull yang jatuh akibat elektroejakulasi
  • Vesikula seminalis dipijat untuk menyebabkan ereksi, dan ampulla untuk menyebabkan ejakulasi.
  • Cara ini hanya berhasil di sebagian bull (Eilts, 2005).

II.  HORMON YANG TERKAIT DENGAN REPRODUKSI JANTAN

Hormon yang mempengaruhi spermatogenesis (Guyton & Hall, 2006) :

  1. Testosteron, disekresikan oleh sel Leydig yang terdapat pada interstisial testis, sangat penting untuk pertumbuhan dan pembelahan dari sel germinal, dimana terjadi awal perkembangan dari sperma.
  2. Luteinizing hormone, disekresikan oleh glandula pituitari anterior, merangsang sel Leydig untuk mensekresikan testosteron.
  3. Follicle-stimulating hormone, disekresikan oleh pituitari anterior, merangsang sel Sertoli. Tanpa rangsangan ini, konversi spermatid menjadi sperma (spermiogenesis) tidak akan terjadi.
  4. Estrogen, dibentuk dari testosteron oleh sel Sertoli ketika dirangsang oleh FSH, mungkin penting juga untuk spermiogenesis.
  5. Growth hormone (hormon pertumbuhan) kadang-kadang dibutuhkan untuk mengontrol fungsi metabolisme dari testis. Hormon pertumbuhan secara spesifik meningkatkan pembelahan awal dari spermatogonia. Ketiadaan hormon ini pada manusia, menyebabkan defisiensi spermatogenesis dan infertilitas (Guyton & Hall, 2006).
  1. Luteinizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone

Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) diproduksi oleh pituitari anterior yang distimulasi oleh gonadotrophin-releasing hormone (GnRH).

  1. Testosteron

Testes merupakan organ target dari LH dan FSH, berisi dua tipe sel utama yaitu sel Leydig dan sel Sertoli, ditambah struktur jaringan yang berhubungan. Sel Leydig ditemukan di ruang intertubular atau jaringan interstisial testis yang bertanggungjawab untuk memproduksi testosteron. Sel Leydig ini dan testosteron yang disekresikan dikontrol oleh LH. LH diproduksi secara pulsatil, sehingga demikian juga testosteron. Karena testosteron dilepaskan secara pulsatil, sampel darah tunggal untuk pemeriksaan kandungan testosteron dapat memberikan informasi yang salah. Pemeriksaan hormon yang diambil beberapa kali selama periode waktu tertentu dan dirata-ratakan akan lebih akurat terhadap keadaan kandungan testosteron yang sebenarnya.

Sel Sertoli ditemukan mengelilingi tubulus seminiferus dan berperan sebagai sel perawat (nurse cells) untuk perkembangan spermatid. FSH dan testosteron mengatur sel Sertoli. FSH berfungsi untuk memulai proses spermatogenesis, perkembangan spermatogonia ke spermatosit sekunder. Testosteron kemudian menyempurnakan perkembangan dari spermatosit sekunder ke spermatozoa, siap untuk berjalan ke epididimis untuk pematangan.

Sebagai tambahan, testosteron mengontrol perkembangan genitalia jantan, penurunan testis (descendent testiculorum) saat fetus, perubahan puber dan akselerasi pertumbuhan, serta pemeliharaan glandula aksesorius.  Testosteron juga bertanggungjawab untuk libido jantan, perilaku seksual, dan perkembangan musculus dengan stimulasi sistem saraf pusat. Testosteron berlaku sebagai feedback negatif pada fungsi pituitari untuk mengurangi pelepasan LH dan FSH, sehingga produksi testosteron itu sendiri akan seimbang. Suatu derivat dari testosteron, dihidrotestosteron, juga berperan sebagai feedback negatif pada pituitari (Morel, 2003).

  1. Inhibin dan Aktivin

Hormon lainnya yang mengontrol reproduksi jantan adalah inhibin dan aktivin. Keduanya diproduksi oleh sel Sertoli sebagai hasil dari produksi total sperma dan memiliki efek feedback tambahan pada fungsi hipotalamus dan pituitari, spesifiknya di produksi FSH. Inhibin berperan sebagai feedback negatif, dan aktivin sebagai feedback positif.

  1. Prolaktin

Fungsi utama prolaktin pada jantan kemungkinan berperan dalam perubahan fisiologis musim non-reproduktif. Misalnya efisiensi pakan selama musim dingin. Prolaktin mungkin juga berperan dalam peningkatan efek LH di sel Leydig dengan beberapa cara dan fungsionalitas glandula aksesoria.

  1. Estrogen

Testis kuda berisi estrogen dan estron dalam konsentrasi tinggi dibandingkan testis mamalia lainnya. Kontrol dan fungsi estrogen testis belum jelas (Morel, 2003).