A. Level Hormon Induk Pada Masa Kebuntingan Akhir

Perubahan hormon yang terjadi pada masa kebuntingan akhir sapi diketahui memiliki peran terhadap pematangan plasenta dan pengeluarannya. Plasentan mampu mensintesis estrogen dan progesteron dalam jumlah yang tidak sedikit. Sepuluh kali lipat konsentrasi estrogen dalam plasma terjadi saat bulan terakhir kebuntingan. Konsentrasi estrogen meningkat secara bertahap sampai minggu terakhir kebuntingan, lalu meningkat tajam pada saat partus. Selama kebuntingan akhir, estron merupakan bentuk estrogen yang dominan, dengan level 5-10 kali lebih banyak dari pada estradiol. Penurunan drastis estrogen dalam plasma dimulai setelah 24-36 jam.

Progesteron plasenta

Progesteron disintesis oleh plasenta selama 1/3 kebuntingan terakhir pada sapi. Meskipun corpus luteum tetap sebagai sumber utama progesteron dalam sirkulasi, plasenta mensekresikan progesteron fisiologis secara signifikan. Konsentrasi progesteron induk menurun selama minggu-minggu akhir kebuntingan dan merosot tajam saat menuju parturisi.

Pemasakan cervix

Secara normal, parturisi membutuhkan pelunakan dan dilatasi cervix. Pemasakan cervix dimulai saat kebuntingan akhir dibawah pengaruh relaksin dan estrogen dan terjadi lebih cepat ketika dominasi progesteron mulai menurun dan produksi prostaglandin meningkat (Gordon, 1996).

B. Inisiasi Partus

Telah diketahui bahwa sinyal untuk parturisi datang dari poros hipotalamus-pituitari-adrenal fetus. Meningkatnya level cortisol fetus menyediakan sinyal yang menginisiasi proses parturisi, dan transmisi dari sinyal ini ke induk dimediasi oleh perubahan aktivitas enzim steroidogenik di plasenta, bukan karena berjalannya hormon melalui plasenta dari fetus ke induk. Meskipun terjadi penambahan level cortisol induk sewaktu mendekati kelahiran, hal ini dipercaya hanya sebagai respon terhadap stress daripada sebagai bagian yang terlibat dalam inisiasi partus.

Corpus luteum sebagai sumber utama progesteron

Corpus luteum sapi dipercaya sebagai satu-satunya sumber terpenting dari progesteron selama kebuntingan, meskipun beberapa steroid disekresikan oleh plasenta. Terjadinya konsentrasi tinggi ditemukan dalam vena ovarian. Konsentrasi tinggi estrogen dalam vena uterina mengindikasikan bahwa unit feto-plasenta merupakan sumber utama estrogen. Meningkatnya cortisol fetus pada kebuntingan akhir merangsang produksi enzim baru atau mengaktivasi enzim di plasenta. Kemudian plasenta meningkatkan produksi estrogen, dengan cara mempercepat produksi estrogen dan konversi progesteron. Sintesis estrogen di plasenta dan produksi progesteron di corpus luteum merupakan sistem yang independen pada sapi, dan peningkatan konversi progesteron menjadi estrogen kemungkinan tidak terjadi pada domba.

Peningkatan konsentrasi estrogen mungkin berhubungan dengan regresi corpus luteum atau produksi prostaglandin oleh kotiledon. Corpus luteum biasanya berhenti mensekresikan progesteron 30-40 hari sebelum parturisi. Otot-otot uterus dan saluran kelahiran disiapkan untuk parturisi dengan peningkatan konsentrasi estrogen, yang dipercaya dapat meningkatkan kontraksi uterus dan menambah sensitivitas terhadap oksitosin dan prostaglandin.

Urutan hormon menginisiasi kelahiran

Terdapat sedikit keraguan bahwa urutan hormon yang mengawali kelahiran berasal dari fetus, yaitu dengan peningkatan sekresi cortisol. Barangkali pelepasan cortisol oleh pituitari fetus dipicu oleh pemasakan sel neurosekretori di hipotalamus. Ketika kelahiran dipengaruhi oleh corticosteroid sintetis yang diberikan oleh peneliti, secara kasar sinyal akan terbentuk. Beberapa steroid sintetis, seperti dexamethasone, dapat menembus plasenta dari sirkulasi induk dan dapat mengaktivasi atau merangsang enzim plasenta yang secara normal merupakan target dari cortisol fetus (Gordon, 1996).

=============================

Gordon, I. (1996). Controlled Reproduction in Cattle and Buffaloes. New York: CABI Publishing